Psikotes Sesuai Kebutuhan Anak

Mungkin ada sebagian dari orang tua yang sudah mengenal istilah psikotes yang pada umumnya dikenal untuk mengetahui tingkat kecerdasan anak. Tapi, sebenarnya apakah tes psikologi atau psikotes itu? Dan apa kaitannya dengan kecerdasan anak?

Mengikutksertakan anak untuk melakukan psikotes rupanya tidak bisa sembarangan. Psikotes haruslah dilakukan dengan tujuan yang jelas agar dapat dirasakan manfaatnya.

Psikolog Sekolah Binus International School Simprug, Annissa Samantha mengatakan, jika dalam ilmu psikologi yang mempelajari perilaku manusia secara keseluruhan, baik dalam ranah kognitif, afektif maupun sosial, kecerdasan termasuk dalam ranah kognitif yang dipelajari dalam ilmu psikologi sehingga masih erat kaitannya antara psikologi dan kecerdasan anak sehingga dari tes psikologi dapat pula diketahui tingkat kecerdasan anak.

Tapi, Annissa juga mengatakan bahwa ada hal yang patut digarisbawahi. Psikotes pada dasarnya hanyalah alat bantu untuk mengenal seorang anak lebih jauh dan menggali kelebihan maupun kekurangan anak. Sedangkan, alat utamanya tetaplah dimiliki oleh masing-masing orang tua yang mengamati, melihat dan berinteraksi langsung dengan anak mereka setiap saat.

“Hal ini sangatlah perlu dipahami oleh setiap orang tua jika psikotes hanya alat bantu sedangkan alat utama untuk mengenal anak sudah dimiliki oleh orang tua,” tegas psikolog Annissa Samantha, M.Psi.

Jadi, apakah penting untuk anak kita mengikuti psikotes? Seperti yang kita ketahui, seiring perkembangan zaman saat ini psikotes memang banyak dilakukan di sekolah sebagai alat tes masuk sekolah. Tes ini dilakukan untuk screening awal dan melihat kesiapan si anak untuk sekolah atau juga untuk keperluan penjurusan pada sekolah tingkat lanjut.

“Oleh karena itu jika ditanya apakah penting atau tidak bagi anak untuk mengikuti psikotes itu relatif, karena psikotes dilakukan harus dengan tujuan yang jelas. Psikotes adalah alat bantu yang artinya bukan alat utama. Itu artinya psikotes akan baik dilakukan jika orang tua memang membutuhkan masukan dari pihak ketiga (psikolog) karena alat yang lebih utama tetap terletak pada orang tua. Jika orang tua hanya sekadar ingin tahu atau iseng untuk mengikut sertakan anak pada psikotes agaknya tidaklah bijak.” jelas Annissa.

Seperti yang dijelaskan Annissa sebelumnya, contoh pelaksanaan psikotes biasanya dilakukan ketika anak di bangku Taman Kanak-kanak akan memasuki masa penerimaan murid Sekolah Dasar. Calon murid akan mengikuti serangkaian kegiatan atau aktivitas yang biasanya dilakukan di Sekolah Dasar.

Tapi, akan lain isi tesnya jika tujuan psikotes adalah untuk mengetahui bakat dan minat seorang anak. Di sini anak akan menjalani serangkaian tes untuk menggali potensi maupun minat yang dimilikinya. Sehingga hasil dari psikotes itu bisa terlihat bakat atau minat yang dimiliki anak.

Psikotes atau tes psikologi memang sebaiknya dilakukan sesuai kebutuhan anak karena ada yang  tujuannya memang untuk mengetahui tingkat kecerdasan, tapi ada pula yang dilakukan untuk mengetahui permasalahan yang dihadapi si anak atau untuk mengetahui kelebihan dan kekurangan anak.

“Yang banyak dikenal sekarang ini psikotes dilakukan pada momen penerimaan masuk siswa di sekolah atau tes bakat untuk penjurusan di jenjang SMA atau memilih jurusan kuliah,” sambung Annissa.

Previous Post

No more post

Next Post

No more post